♫•*¨*•.¸Bagaimana seorang muslim menyambut bulan Ramadhan? ¸.•*¨*•♫

Bagaimana seorang muslim menyambut bulan Ramadhan?

Bulan Ramadhan yang penuh kemuliaan dan keberkahan, padanya dilipatgandakan amal-amal kebaikan, disyariatkan amal-amal ibadah yang agung, di buka pintu-pintu surga dan di tutup pintu-pintu neraka.
Oleh karena itu, bulan ini merupakan kesempatan berharga yang ditunggu-tunggu oleh orang-orang yang beriman kepada Allah Ta’aladan ingin meraih ridha-Nya.
Dan karena agungnya keutamaan bulan suci ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu menyampaikan kabar gembira kepada para sahabat radhiyallahu ‘anhu akan kedatangan bulan yang penuh berkah ini.
Sahabat yang mulia, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, menyampaikan kabar gembira kepada para sahabatnya: “Telah datang bulan Ramadhan yang penuh keberkahan, Allah mewajibkan kalian berpuasa padanya, pintu-pintu surga di buka pada bulan itu, pintu-pintu neraka di tutup, dan para setan dibelenggu. Pada bulan itu terdapat malam (kemuliaan/lailatul qadr) yang lebih baik dari seribu bulan, barngsiapa yang terhalangi (untuk mendapatkan) kebaikan malam itu maka sungguh dia telah dihalangi (dari keutamaan yang agung)”.
Imam Ibnu Rajab rahimahullah, ketika mengomentari hadits ini, beliau rahimahullah berkata: “Bagaimana mungkin orang yang beriman tidak gembira dengan dibukanya pintu-pintu surga? Bagaimana mungkin orang yang pernah berbuat dosa (dan ingin bertobat serta kembali kepada Allah Ta’ala) tidak gembira dengan ditutupnya pintu-pintu neraka? Dan bagaimana mungkin orang yang berakal tidak gembira ketika para setan dibelenggu?”.
Dulunya, para ulama salaf jauh-jauh hari sebelum datangnya bulan Ramadhan berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Allah ‘Azza wa jalla agar mereka mencapai bulan yang mulia ini, karena mencapai bulan ini merupakan nikmat yang besar bagi orang-orang yang dianugerahi taufik oleh Alah Ta’ala. Mu’alla bin al-Fadhl rahimahullah berkata: “Dulunya (para salaf) berdoa kepada Allah Ta’ala (selama) enam bulan agar Allah Ta’ala mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan, kemudian mereka berdoa kepada-Nya (selama) enam bulan (berikutnya) agar Dia menerima (amal-amal shaleh) yang mereka (kerjakan)”[7].
Maka hendaknya seorang muslim mengambil teladan dari para ulama salaf dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan, dengan bersungguh-sungguh berdoa dan mempersiapkan diri untuk mendulang pahala kebaikan, pengampunan serta keridhaan dari AllahTa’ala, agar di akhirat kelak mereka akan merasakan kebahagiaan dan kegembiraan besar ketika bertemu Allah ‘Azza wa jalla dan mendapatkan ganjaran yang sempurna dari amal kebaikan mereka. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Orang yang berpuasa akan merasakan dua kegembiraan (besar): kegembiraan ketika berbuka puasa dan kegembiraan ketika dia bertemu Allah”.
 Tentu saja persiapan diri yang di maksud di sini bukanlah dengan memborong berbagai macam makanan dan minuman lezat di pasar untuk persiapan makan sahur dan balas dendam ketika berbuka puasa. Juga bukan dengan mengikuti berbagai program acara Televisi yang lebih banyak merusak dan melalaikan manusia dari mengingat Allah Ta’ala dari pada manfaat yang diharapkan, itupun kalau ada manfaatnya.
Tapi persiapan yang dimaksud di sini adalah mempersiapkan diri lahir dan batin untuk melaksanakan ibadah puasa dan ibadah-ibadah agung lainnya di bulan Ramadhan dengan sebaik-sebaiknya, yaitu dengan hati yang ikhlas dan praktek ibadah yang sesuai dengan petunjuk dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena balasan kebaikan/keutamaan dari semua amal shaleh yang dikerjakan manusia, sempurna atau tidaknya, tergantung dari sempurna atau kurangnya keikhlasannya dan jauh atau dekatnya praktek amal tersebut dari petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam .
Hal ini diisyaratkan dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sungguh seorang hamba benar-benar melaksanakan shalat, tapi tidak dituliskan baginya dari (pahala kebaikan) shalat tersebut kecuali sepersepuluhnya, sepersembilannya, seperdelapannya, sepertujuhnya, seperenamnya, seperlimanya, seperempatnya, sepertiganya, atau seperduanya”.
Juga dalam hadits lain tentang puasa, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Terkadang orang yang berpuasa tidak mendapatkan bagian dari puasanya kecuali lapar dan dahaga”.

♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

Silahkan silahturahmi di

Fb : Al-Madinatul Siti Munawwaroh ( si peri kecil )
Twetter : @muna_perikecil

Kunjungi dan gabung yah di blog : http://munasiperikecil.blogspot.com/

Dan jangan lupa like juga page

Yang Hatinya Penuh Cinta Cz Allah (http://www.facebook.com/YhpczAllah.Perikecil

~•• Muslimah Dan Ranting Hati (سلم وأوراق القلب ) (http://www.facebook.com/MuslimahdanRantingHati.munasiperikecil.RHMS )


☼.¸♥.`•.,,.• ´¸.•*```•.,,.•´☆☆
★☆★☆★☆★☆★☆★☆

Salam santun ukhuwah fillah penuh cinta cz Allah
~♥~ Al-Madinatul Siti Munawwaroh ~♥~

Sumber : manisnyaiman.com
☼.¸♥.`•.,,.• ´¸.•*```•.,,.•´☆☆
★☆★☆★☆★☆★☆★☆
Baca Selengkapnya

♫•*¨*•.¸Aku Dan Kerinduan¸.•*¨*•♫



Aku dan kerinduan..........

Jam menunjukkan pukul 02:17 , aku terbangun dalam lelap tidurku. Ku langkahkan kaki menuju kamar mandi untuk sejenak menyegarkan wajah karena hendak bersujud pada-Nya. Dinginnya malam ini tak sedingin ketika ku melihat wajahmu tadi siang. Bahkan, ku tangkap dari pesan dan status jejaring sosialmu ada kecemburuan disana. Dan aku............. lagi-lagi aku yang salah di matamu.

Malam ini akan ku habiskan waktu indahku bersama-Nya, ku curahkan segala kesah dihatiku termasuk engkau yang menjadi misteri di hariku. Betapa tidak, tingkahmu membuat aku bingung dengan semua ini. Ya Rabb... tunjukilah kami jalan yang lurus. Jalan orang-orang yang Engkau berkahi, agar semakin besar rasa cintaku pada-Mu.

Ku gelar sajadah cintaku dengan perlahan, hawa malas masih menyelimuti kalbuku. Namun, tak ku biarkan iblis merajai hatiku !!

Selesai sholat, ku perbanyak istighfar malam ini. Agar semakin kusadari dosa-dosaku yang kian menumpuk di setiap hariku. Yah.... aku memamng bukan muslimah yang baik, namun setidaknya aku masih mengingat dosa yang kuperbuat. Bahkan ketika selesai sholat pun ku perbanyak istighfar agar aku tidak menjadi orang yang sombong. Mungkin saja dalam sholatku ada kesalahan yang tidak sengaja aku perbuat -mungkin-.

*****

Ya Illahi...
Begitu indah rasa di hati yang kian mekar tersiram hari,
Lambat laun kian terisi dengan datangnya si pujangga hati.
Entah dia atau bukan jodohku nanti,
Namun dialah kini yang sekarang dihati..

Ya Robbul Izzati...
Dalam penantian bertasbih harap dan mimpi
Terlintas dalam benak si pangeran hati
Yang mulai menggerogoti untuk berfatwa akan diri
Bilamana dia jodohku nanti
Betapa bersyukur diri yang sedang merindui ini
Bila pun tidak dia jodohku nanti
Hati akan sedikit terperi
Namun bila ini yang terbaik untuk diri dan keluargaku ini
Tak lupa bersyukuri dan pasti mencintai suamiku nanti...

*****

dia bukan sosok pemuda kaya lagi tampan nan rupawan, hanya sebongkah arang hitam namun mampu menghangatkan diri dan kedamaian dalam hati. Cukuplah aku dan Allah yang tau tentang perasaan ini. Jauh dimata namun dekat dihati... yah, inilah cinta yang dikata orang. Tapi, tak kan kubiarkan cinta ini mengurangi rasa cintaku pada-Nya. Namun, akan kujadikan pelajaran diri untuk mencocokkan dengan yang dicintai. Bagaimana mungkin seorang biasa mendapat jodoh yang sholeh nan sopan akhlaknya. Bila diri ini masih berlumur dosa dan jauh dari kata sholehah.

Selesai ku bermunajat, kubuka laptop kecilku tempat aku menulis segala asa yang ada dihati. Bukan berarti curhat pada laptopku ini. Namun, menulis adalah kegemaranku. Buku ??? yah, memiliki buku karanganku sendiri nadalah juga impianku. Walau aku gadis desa, setidaknya aku punya mimpi -semoga saja terwujud –

Ku buka catatan demi catatan kecilku... alhamdulillah, ada perbaikan diri yang tergambar dalam setiap tulisan jelekku. Bukan berarti karena sang ikhwan sejati, namun lebih kepada Illahi. Karena yang baik akan mendapat yang baik dan begitu pula sebaliknya. Namun, yang baik di mata kita belum tent5u baik mata Allah dan sebaliknya pula. Waalahu’alam bisshowab tentang kebenarannya namun aku hanya memperbaiki diri dan mengimani setiap kalam dan surat cinta-Nya kini.

Allah... ajari aku untuk setia pada satu hati. Karena bagaimana pun aku tak boleh mempermainkan hati dan perasaan yang Engkau berikan kini. Dia.... semoga saja kelak di satukan dalam iktan suci yang Dia berkahi. Aamiin ya rabbal ‘alaamiin...

"...dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah. Mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya pada Allah ..."
(QS. al-Baqarah:165)

Baca Selengkapnya
----------------------------------------------------------------------------